Luwu Utara– Menghadapi potensi bencana alam yang kerap melanda wilayahnya, Kapolres Luwu Utara AKBP Nugraha Pamungkas memimpin Apel Gelar Pasukan Siaga Penanggulangan Bencana di halaman Mapolres Luwu Utara. Kegiatan ini diikuti oleh personel Polres, Brimob, TNI, Basarnas, Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial, Satpol PP, Damkar, tenaga kesehatan, hingga jajaran Forkopimda.
Apel siaga ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan momentum untuk memastikan kesiapan semua pihak, baik dari sisi personel maupun peralatan. Dalam kesempatan tersebut, Kapolres juga menyerahkan bantuan perahu rakitan sederhana kepada sejumlah polsek yang wilayahnya sering dilanda banjir, yakni Baebunta, Malangke, dan Malangke Barat.
“Bencana bisa datang kapan saja dan melanda siapa saja. Jadi kapanpun dan dimanapun kita harus siap. Apalagi daerah kita ini termasuk rawan bencana, terutama banjir dan longsor. Maka dari itu, kesiapsiagaan harus dilakukan sejak dini, mulai dari peralatan hingga personel,” tegas AKBP Nugraha.
Perahu Rakitan untuk Daerah Langganan Banjir
Hal menarik dari apel kali ini adalah inovasi perahu rakitan yang digagas langsung oleh Kapolres Nugraha. Perahu itu dibuat dengan memanfaatkan bahan sederhana seperti drum, papan, dan pipa. Meski terkesan sederhana, perahu ini dinilai cukup efektif untuk digunakan sebagai sarana evakuasi darurat, terutama di wilayah yang setiap tahun menjadi langganan banjir.
Selain perahu, Kapolres juga menyerahkan rompi keselamatan dan obat-obatan untuk mendukung kesiapan petugas di lapangan. “Jangan sampai kita punya alat, tapi ketika dibutuhkan malah rusak karena tidak dirawat. Yang terpenting adalah bagaimana alat itu benar-benar bisa bermanfaat dan menyelamatkan orang lain,” tambahnya.
Luwu Utara Daerah dengan Risiko Tinggi Bencana
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan, Kabupaten Luwu Utara termasuk dalam kategori daerah rawan bencana. Dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, Luwu Utara masuk dalam wilayah dengan tingkat risiko tinggi untuk bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga gempa bumi.
Baca Juga: Mutasi Jabatan Bermasalah ASN Senior Luwu Utara Tempuh Jalur Hukum
Tragedi banjir bandang yang melanda Luwu Utara pada Juli 2020 lalu menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak boleh dianggap sepele. Saat itu, ribuan rumah terendam, puluhan orang meninggal dunia, dan banyak infrastruktur rusak parah.
Prediksi BMKG: Hujan Tinggi hingga Akhir Tahun
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Luwu Utara juga memberikan peringatan terkait potensi cuaca ekstrem. Pada Oktober hingga Desember, curah hujan di wilayah ini diprediksi meningkat signifikan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko banjir dan longsor, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar lereng gunung dan bantaran sungai.
“Luwu Utara merupakan salah satu daerah dengan intensitas hujan yang tinggi hampir sepanjang tahun. Karena itu, masyarakat harus lebih waspada, khususnya mereka yang tinggal di daerah rawan,” ungkap BMKG Lutra.
Tak hanya banjir, cuaca panas ekstrem yang terjadi akibat pergerakan semu matahari dekat garis khatulistiwa juga berpotensi menimbulkan bencana lain, yakni kebakaran hutan dan lahan. Fenomena ini bisa terjadi dua kali dalam setahun, biasanya pada periode Maret hingga September.


















