Drama Penyelamatan di Seko: Warga Luwu Utara yang Hilang 5 Hari di Hutan Akhirnya Ditemukan dalam Kondisi Lemah

Luwu Utara – Sebuah misi penyelamatan yang menegangkan akhirnya membuahkan hasil: Salmon (42), warga Desa Marente, Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara, yang sempat dilaporkan hilang di hutan Kalamio Seko, berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan dalam kondisi lemah. Proses evakuasi berlangsung cukup berat dan penuh tantangan, terutama karena medan yang sangat sulit.
Latar Belakang Kejadian
Salmon dilaporkan hilang sejak Kamis, 2 Januari 2025, sekitar pukul 08.00 WITA. Menurut laporan dari keluarganya, dia meninggalkan rumah untuk mengambil rotan di hutan. Motif ke hilangannya cukup sederhana, yaitu untuk mencari rotan yang nantinya akan digunakan untuk membuat rakit dan sebagai alat mengikat di kebun. Saat berangkat, Salmon sempat bertemu dengan dua rekannya, Esrong dan Karti, yang juga hendak mencari rotan, namun mereka kembali ke kampung ketika Salmon belum kembali.
Pencarian Intensif dan Hambatan
Setelah laporan kehilangan diterima, tim SAR gabungan segera dikerahkan. Basarnas Makassar memimpin operasi bersama BPBD, TNI/Polri, potensi SAR, dan warga lokal. Evakuasi tidak mudah. Lokasi Salmon berada di area hutan pegunungan yang sangat sulit dijangkau: medan terjal, tanpa jalur komunikasi reguler, dan hujan deras menyulitkan upaya evakuasi. Tim SAR harus berjalan sekitar 9 kilometer dari titik awal pencarian menuju lokasi penemuan. Estimasi perjalanan evakuasi bisa sampai 12 jam jika dilakukan nonstop, atau melewati malam bila tim bermalam di hutan.
Penemuan dan Evakuasi
Pada Minggu, 12 Januari 2025, Salmon akhirnya ditemukan oleh tim SAR gabungan dalam keadaan lemah. Koordinat penemuan korban berada cukup jauh dari permukiman dan sangat dalam kawasan hutan. Karena kondisinya lemah, tim SAR melakukan evakuasi dengan cara menggendong Salmon. Dua personel polisi dari Polres Luwu Utara, Aipda Rifa’i dan Aipda Alexander, bergantian menggendongnya melewati medan sulit sejauh sekitar 12 kilometer menuju kampung.
Evakuasi disertai tantangan ekstrem: kondisi korban sangat lemah, jalur komunikasi terbatas, dan cuaca hujan yang menghambat pergerakan tim SAR. Evakuasi akhirnya selesai dan tim tiba di posko SAR sekitar Senin dini hari (13 Januari 2025). Dengan ditemukannya Salmon, operasi SAR resmi ditutup.
Dukungan Masyarakat dan Respons Lokal
Kepala Desa Marente, Hasier, mengaku telah mengerahkan sekitar 100 warga untuk membantu pencarian. Warga turun ke hutan untuk menyusuri jalur di mana Salmon diduga berada. Menurut Hasier, warga sempat mendengar cerita dari Salmon setelah ditemukan bahwa dia sempat dipandu oleh dua perempuan ke dalam hutan dan diarahkan ke sungai. Dalam kondisi darurat, Salmon mengaku hanya mengkonsumsi air sungai dan kadang makan kepiting mentah untuk bertahan hidup.
Aksi evakuasi yang melibatkan polisi dan warga lokal mendapat apresiasi luas karena menunjukkan solidaritas dan kerja sama antar elemen masyarakat di tengah krisis.
Signifikansi dan Pelajaran Penting
-
Kesiapsiagaan SAR di Daerah Terpencil
Kasus ini menjadi contoh nyata pentingnya keberadaan tim SAR, dukungan logistik, dan koordinasi dengan aparat lokal di daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau. -
Kolaborasi Masyarakat dan Aparat
Partisipasi besar warga lokal dalam pencarian dan evakuasi menunjukkan kemampuan kolaboratif yang sangat krusial dalam operasi penyelamatan. -
Akses Komunikasi di Hutan
Kendala komunikasi selama proses pencarian – di mana tim SAR harus mengandalkan telepon satelit – menegaskan perlunya peningkatan infrastruktur komunikasi di kawasan hutan terpencil. -
Peran Polisi dalam Penyelamatan
Evakuasi oleh personel polisi yang menggendong korban sejauh 12 km menonjolkan dedikasi aparat dalam menyelamatkan warga, bahkan melewati batas tugas biasa mereka.
















