Luwu Utara– Kabupaten Luwu Utara kini menjadi pusat perhatian nasional Bukan karena bencana alam atau konflik sosial, melainkan karena wilayah ini terpilih sebagai kabupaten percontohan (pilot project) pembentukan Batalyon Pangan TNI pertama di Pulau Sulawesi. Sebanyak 1.008 prajurit TNI akan disebar ke 175 desa di 15 kecamatan. Mereka bukan datang untuk berperang, tetapi untuk bertani, membangun ketahanan pangan, sekaligus memperkuat perekonomian desa.
Kabupaten Paling Luas di Sulsel
Dengan luas 7.502,58 kilometer persegi, Luwu Utara memang layak disebut raksasa di daratan Sulawesi Selatan. Luas wilayahnya 35 kali lipat dari Kota Makassar (199,2 km²) dan hampir dua kali lebih besar dibanding Kabupaten Bone (4.559 km²). Luas wilayah ini, kata Abdullah, menjadi salah satu alasan utama Luwu Utara ditunjuk menjadi lokasi uji coba Batalyon Pangan.
“Lahan pertanian kita sangat luas. Jadi konsep Batalyon Pangan ini sangat cocok dengan karakter wilayah Lutra yang agraris,” tambahnya.
Markas di Bone-Bone, Aksi di Seluruh Desa
Sebagai langkah awal, Pemerintah Kabupaten Luwu Utara telah menyiapkan lahan seluas 75 hektare di Kecamatan Bone-Bone untuk dijadikan markas utama Batalyon Pangan. Di lokasi itu nantinya akan dibangun fasilitas komando, perumahan prajurit, dan lahan percontohan pertanian terpadu.
“Semoga tahun ini sudah bisa dilakukan upacara penerimaan daerah. Kami sudah koordinasi dengan perwira tinggi di Jakarta yang menangani langsung program ini,” kata Bupati Abdullah optimistis.
Selain memperkuat sektor pangan, keberadaan seribu prajurit ini diyakini akan menjadi suntikan ekonomi besar bagi masyarakat lokal.
Baca Juga: Bupati Luwu Utara Minta BBPJN Sulsel Bantu Perbaiki 14 Km Jalan Menuju Seko
“Bayangkan, seribu prajurit dan bintara muda dengan gaji rata-rata Rp6 juta per bulan. Itu artinya miliaran rupiah uang akan berputar dari kecamatan sampai ke desa,” kata Abdullah dengan semangat.
Lutra: Tanah Subur dan Penduduk Beragam
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Luwu Utara dihuni 336.360 jiwa, dengan sekitar 51 persen di antaranya merupakan keturunan transmigran dari era 1950-an. Mereka tersebar di 166 desa di 15 kecamatan, hidup berdampingan dengan masyarakat asli Luwu yang terkenal ramah dan pekerja keras.
Perpaduan kultur lokal dan semangat kerja transmigran ini menjadikan Lutra sebagai daerah dengan potensi pertanian yang kuat, mulai dari padi, jagung, kakao, hingga tanaman hortikultura.
Program Batalyon Pangan sejatinya adalah gagasan besar Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan TNI sebagai garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
“Ini bukan hanya soal tentara yang bertani, tapi bagaimana TNI hadir untuk memperkuat kemandirian bangsa melalui pangan,” ujar Abdullah menegaskan.
















