Luwu Utara– Rapat penting ini dipimpin langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, serta dihadiri para kepala daerah dari berbagai wilayah di Indonesia. Dari Sulawesi Selatan sendiri hadir sejumlah bupati, antara lain Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif, Bupati Pinrang Andi Irwan Hamid, Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim, Bupati Gowa St Husniah Talenrang, Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong, dan Bupati Maros Chaidir Syam.
Pemerintah pusat semakin serius mempercepat hilirisasi komoditas perkebunan prioritas. Hal ini terlihat dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Program Hilirisasi Komoditas Perkebunan yang digelar di Gedung Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta
Anggaran Rp9,95 Triliun untuk Perkebunan Strategis
Dalam arahannya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) 2025–2027 sebesar Rp9,95 triliun. Dana ini akan difokuskan untuk meningkatkan produktivitas dan produksi sejumlah komoditas strategis nasional.
Target yang dipasang cukup ambisius, yakni pengembangan kelapa 221.890 ha, tebu 200.000 ha, kopi 99.500 ha, kakao 248.500 ha, jambu mete 50.000 ha, lada 6.000 ha, dan pala 45.000 ha. Amran menegaskan, hilirisasi komoditas perkebunan tidak hanya soal menanam, tetapi juga membangun rantai nilai yang kuat dari hulu hingga hilir.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi eksportir bahan mentah. Kita harus memastikan ada nilai tambah di daerah penghasil melalui pembangunan industri pengolahan,” ujar Amran.
Usulan Strategis dari Luwu Utara
Usai rapat utama, dilanjutkan pertemuan teknis yang dipimpin Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman bersama Dirjen Perkebunan Abdul Muis Angkat. Dalam sesi ini, masing-masing kepala daerah diberi kesempatan menyampaikan kebutuhan spesifik wilayahnya.
Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, tampil dengan sejumlah usulan strategis yang langsung mendapat perhatian. Ia menekankan bahwa Luwu Utara memiliki potensi besar di sektor perkebunan, khususnya kakao, kopi, kelapa, dan sawit.
Baca Juga: Resmob Polres Sinjai Ringkus Terduga Pelaku Penggelapan di Masamba
-
Kakao
-
Pendirian pabrik kakao di Luwu Utara.
-
Program penanaman 10.000 ha kakao dengan memanfaatkan benih lokal unggul.
-
-
Kopi
-
Penyediaan bibit kopi arabika dan robusta seluas 2.000 ha.
-
Bantuan 5 unit pabrik pengolahan kopi agar petani tidak lagi menjual biji mentah.
-
-
Sawit
-
Bantuan bibit sawit untuk peremajaan.
-
Pembangunan pabrik pengolahan limbah sawit serta pabrik minyak goreng di daerah penghasil.
-
-
Kelapa
-
Pengadaan bibit kelapa dalam untuk ditanam di sepanjang bantaran sungai seluas 3.000 ha.
-
Menurut Andi Rahim, usulan tersebut bukan hanya soal meningkatkan produktivitas perkebunan, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, serta memperkuat ekonomi lokal melalui hilirisasi di sentra komoditas.
“Selama ini, petani kita masih lemah di sisi hilirisasi. Padahal, dengan adanya pabrik pengolahan di dekat kebun, nilai tambah bisa berlipat ganda dan hasilnya kembali ke masyarakat,” tegas Andi Rahim.
















