Luwu Utara– Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mempercepat upaya pemulihan lingkungan melalui program rehabilitasi hutan dan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Rongkong, Sulawesi Selatan. Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi nasional dalam menekan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor yang kerap melanda kawasan beriklim basah tersebut.
Fokus Pemulihan di Hulu DAS
Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Jeneberang Saddang, Abdul Aziz, menegaskan bahwa kunci utama pengendalian banjir berada di wilayah hulu. Menurutnya, peningkatan tutupan lahan menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi laju erosi yang selama ini memperburuk kondisi tanah di kawasan DAS.
Program rehabilitasi lahan tidak hanya berfokus pada penanaman kembali hutan, tetapi juga menekankan pendekatan yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Salah satu metode yang diterapkan adalah pola agroforestri, yakni sistem tanam terpadu yang menggabungkan tanaman hutan dengan komoditas pertanian.
Dengan sistem ini, masyarakat dapat memperoleh hasil ekonomi tanpa merusak keseimbangan ekologis. “Kami ingin masyarakat tetap produktif, tetapi lingkungan juga tetap lestari,” imbuh Aziz.
Potret Kondisi DAS Rongkong
DAS Rongkong memiliki luas sekitar 172.276 hektare, mencakup wilayah yang sebagian besar masih berupa kawasan hutan. Berdasarkan data Kemenhut, sekitar 34,81 persen wilayahnya berupa hutan lahan kering primer, sedangkan 23,09 persen merupakan hutan lahan kering sekunder.
Namun, di sisi lain, sebagian kawasan sudah dimanfaatkan untuk pertanian lahan basah (11,52 persen) dan pertanian lahan kering campur (14,21 persen). Dari total luasan tersebut, sekitar 4,87 persen lahan dikategorikan sangat kritis, dan 2,46 persen lainnya tergolong kritis.
Angka ini menunjukkan bahwa masih ada area yang memerlukan perhatian serius, terutama di wilayah-wilayah yang menjadi sumber utama aliran air ke sungai-sungai besar di Sulawesi Selatan.
Baca Juga: Lukman Hamarong Terima Penghargaan PIK-R Generik Award 2025 dari SMAN 4 Luwu Utara
Belajar dari Banjir Luwu Utara 2020
Salah satu lokasi prioritas rehabilitasi hutan di DAS Rongkong adalah Kabupaten Luwu Utara. Wilayah ini pernah mengalami bencana banjir bandang besar pada tahun 2020 yang menewaskan sedikitnya 38 orang dan menyebabkan kerusakan luas pada pemukiman serta lahan pertanian.
Tragedi tersebut menjadi pengingat penting bagi pemerintah dan masyarakat akan rapuhnya kondisi lingkungan di kawasan hulu sungai. Curah hujan tinggi yang hampir terjadi sepanjang tahun, ditambah degradasi lahan, membuat potensi banjir semakin besar bila tidak ada upaya mitigasi yang terencana.
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah selatan Luwu Utara termasuk daerah dengan intensitas hujan tinggi hampir sepanjang tahun, menjadikannya sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi.
Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengelolaan DAS Kemenhut, Nurul Iftitah, dalam kesempatan yang sama menekankan pentingnya pendekatan ekosistem dalam mengelola DAS. Ia menggambarkan fungsi DAS seperti “mangkuk raksasa” yang menampung dan mengalirkan air ke berbagai aliran sungai.
Nurul menegaskan, kerusakan di bagian hulu bisa memberikan efek domino hingga ke wilayah hilir. Ketika vegetasi penahan air berkurang, air hujan langsung mengalir ke sungai tanpa terserap ke tanah, sehingga meningkatkan risiko banjir bandang dan longsor.
















